CeramahSingkat: Jangan Pernah Lupakan Kebaikan dan Jasa Orang Lain. Demikian juga di antara sahabat atau orang yang ingin menebus tebusan adalah Jubair bin Muth'im radhiyallahu 'anhu. Ketika dia masih musyrik, dia pergi ke Madinah untuk menebus tebusan. Di antara kerabatnya ada yang tertawan dalam Perang Badar, maka dia pun pergi ke Madinah ingin menebus tawanan tersebut.
Padahal Allah menganjurkan kita untuk mengutamakan sedekah kepada orang-orang terdekat terutama kepada orang tua. Perintah berbuat baik kepada orang tua tertulis juga tertulis dalam Surat Al-Luqman Ayat 14, yang artinya : "Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang Ibu Bapaknya, Ibunya telah mengandungnya dalam
simplebukan? tapi coba aja lakuin pasti susah deh :p kita masih sering melupakan jasa orang lain terhadap kita, kita masih sering memamerkan kebaikan kita sendiri, kita lupa akan kesalahan kita ke orang lain dan mengulangnya untuk menyakiti lagi dan lagi, orang yang membantu kita dan ini yang paling sering terjadi, KITA MASIH SERING DENDAM? bukan kah itu semua perbuatan buruk yang harusnya
Tidakelok rasanya bila kamu sampai melupakan jasa orang-orang yang telah memberikan pertolongan dalam hidupmu. Mereka dengan rela meluangkan tenaga dan waktu untuk membantumu, sehingga janganlah menjadi pribadi yang bersikap tidak tahu terima kasih. Jika mengharapkan lebih, takutnya kamu tidak akan pernah merasa bahagia dengan apa yang
Kitatidak mungkin boleh hidup sendiri. Sudah banyak kita menerima budi dan jasa orang lain. Bahkan mungkin jasa orang pada kita lebih besar dan lebih banyak daripada apa yang terdaya kita berikan pada mereka. Kerana itu kita sepatutnya merasa malu dan terhutang budi kepada manusia lain lebih-lebih lagi kepada Allah.
Artinya: orang sombong yang melupakan jasa orang lain) Ketika kita dewasa, kita harus enak agar tidak ditelan pahit. Jangan meludah dengan segera. (Artinya: harus berpikir hati-hati sebelum mengambil tindakan apa pun) Ibu Riri makan hati yang hangat dari anaknya sendiri selama bertahun-tahun, tetapi tidak pernah mengeluh. (Artinya: Hidup
Kitamesti menghargai jasa dan budi yang dicurahkan oleh orang lain terhadap kita 4. Jangan melupakan jasa orang lain terhadap kita. Empat Kerat (Jenaka dan Sindiran) Nilai 1. Nilai bertanggungjawab Seseorang isteri bertanggungjawab menguruskan rumah tangga dengan baik. 2. Nilai kegigihan Seseorang yang gigih berusaha bagi mencapai matlamatnya.
Karenaorang lain tak merasakan apa yang Si Introvert rasakan. Jika ada yang berkata; Introvert tidak memiliki teman. ITU SALAH! Kau mengajarkanku untuk menjadi anak gadis yang tak melupakan jasa orang lain, meskipun orang lain melupakan jasaku. Dahulu, kau banyak membantuku untuk membantu teman-temanku. Tetapi saat telah berpisah dengan
1tahun lebih usaha seperti itu,akhirnya gue kuliah juga hahaha, seneng nya gue bisa kuliah kek temen2 gue gitu.. gue ngejalanin kuliah sambil bantu emak gue dagang,yah walaupun jadi tukang nyuci2,yang penting gue bisa ngerok dan ngopi,yang terpenting amal membantu orang tua heheh,karena disitu gue bisa kuliah,karena gue gak mau ngebebanin nyokap gue, akhirnya gue kerja deh jadi kang kaset
Orangyang merasa telah berjasa pada Negara, Islam, pada Umat, pada dakwah, sesungguhnya telah menafikan kuasa Allah. Ia melupakan posisi dirinya sebagai hamba yang sebenarnya tak memiliki kuasa apapun kecuali atas izin Allah. "Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki. Sungguh Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu". (QS. An-Nur: 45) 2.
tHRQm. Oleh Bahren Nurdin* Cobalah berdiri di depan cermin dan kemudian bertanya pada diri sendiri, siapa saja yang telah membantu saya hingga menjadi seperti saat ini?’ Maka yakinlah akan keluar begitu banyak nama orang-orang yang telah membantu anda selama ini. Ya, kan? Sebagai apa pun anda hari ini, tidak akan pernah luput dari bantuan orang lain. Bahkan, anda pada kehidupan yang mapan dengan segala fasilitas tercukupi sekali pun, dipastikan memerlukan bantuan orang lain. Yakinlah, sebagai mahluk sosial, tidak ada orang hidup sukses tanpa bantuan orang lain! Saya menyebut orang-orang ini dengan The God’s Men’. Mereka adalah orang-orang yang sengaja dikirim oleh Allah untuk membantu orang lain. Melalui uluran tangan mereka 'tangan' Tuhan bekerja untuk memberikan banyak kemudahan kepada orang-orang yang dikehendakiNya dalam berbagai bidang kehidupan masa berjuang menuntut ilmu sekolah/kuliah, pekerjaan, karir, bisnis, organisasi, dan lain-lain. Saya pribadi bahkan memiliki daftar nama-nama mereka agar tidak lupa. Itulah yang paling saya takutkan. Saya takut lupa dengan orang-orang yang telah banyak berjasa dalam hidup saya. Sedikit apa pun bantuan yang mereka berikan, bagi saya pasti sangat berarti. Sifat manusia memang mudah lupa. Dan, sejahat-jahatnya lupa adalah melupakan jasa baik orang lain kepada kita. Sebagai orang yang berjuang dalam menuntut ilmu untuk mencapai cita-cita, saya sangat merasakan bagaimana sulitnya melewati hari-hari di masa sekolah hingga kuliah. Mengatasi kesulitan ekonomi menjadi tantangan tersendiri. Banyak halangan dan rintangan yang harus dihadapi. Saat-saat seperti itulah The God’s Men’ didatangkan Allah untuk membantu. Itulah mengapa mereka tidak boleh dilupakan. Pribahasa umum yang sering kita dengar, jangan sampai seperti kacang lupa dengan kulitnya’. Itu artinya, dari sebelum menjadi apa-apa hingga ia menjadi kacang yang bagus, selalu dilindungi oleh kulitnya. Di dalam tanah, kulit kacang selalu melindungi isinya dengan sebaik mungkin agar tidak busuk atau dimakan hama. Jasanya sangat besar. Bayangkan jika biji kacang tanpa kulitnya, maka ia akan hancur dan mungkin akan terbuang. Itu kacang! Ada beberapa alasan penting mengapa The God’s Men’ tidak boleh dilupakan. Pertama, tahu diri. Sebagai bahan kontrol diri sendiri. Agar terhindar dari sifat sombong atau merasa hebat. Dengan kembali membuka daftar nama orang-orang ini, kita semakin sadar bahwa diri kita bukanlah siapa-siapa. Mereka yang apa-apa. Merekalah yang hebat. Di sisi lain, hal ini juga dapat dijadikan bahan evaluasi diri. Dari mana dan sudah sampai di mana perjalanan hidup yang sedang dilakoni’. Agar masa-masa sulit yang telah dilewati menjadi berarti dan tidak mengecewakan orang-orang yang telah berjasa, maka jangan pernah melakukan hal-hal yang di luar ketentuan. Jangan membuat keburukan karena yang kecewa tidak hanya diri sendiri tapi juga mereka yang telah banyak berkorban. Kedua, tahu berterima kasih. Jasa mereka yang telah banyak membantu kita tidak akan terbalaskan. Itulah pula mengapa saya namakan The God’s Men’ karena biar Allah saja yang membalas segala kebaikan mereka. Mereka mungkin sudah melupakan apa yang mereka berikan kepada kita. Tapi kita tidak boleh lupa. Bukan untuk membalasnya, tapi sebagai bukti kita tahu berterima kasih. Dengan tidak melupakan kebaikan orang itulah bukti kita berterima kasih sekali gus bersyukur. Paling tidak dengan cara ini, kita masih bisa bersilaturrahim dan menjalin hubungan kekeluargaan dengan baik. Itulah salah satu bentuk terima kasih kita. Ketiga, tahu berbagi dan menolong. Memang begitulah hukum alamnya, ada masanya kita dibagi dan ditolong, ada pula masanya kita berbagi dan menolong. Dalam menghadapi masa-masa sulit dalam kehidupan, sekecil apa pun bantuan orang pasti sangat berarti bagi kita. Rasa ini tidak boleh hilang dalam ingatan. Jika ditolong itu rasanya bahagia, maka jangan ragu untuk menolong orang lain. Akhirnya, dipastikan masing-masing kita memiliki The God’s Men’. Mereka yang telah banyak sedikitnya membantu kehidupan kita. Satu kalimat, 'jangan lupakan mereka'!. Bukan karena mereka, tapi untuk diri kita sendiri agar kita tahu diri, tahu berterima kasih, dan tahu berbagi. Ingatlah segala kebaikan mereka sekecil apa pun itu dan lupakan kebaikan kita kepada orang lain! Semoga bermanfaat. Amin.* *Akademisi UIN STS Jambi dan Mind-Setting Programmer hypno-motivation Artikel Rekomendasi
– Cobalah berdiri di depan cermin dan kemudian bertanya pada diri sendiri, siapa saja yang telah membantu saya hingga menjadi seperti saat ini?’ Maka yakinlah akan keluar begitu banyak nama orang-orang yang telah membantu anda selama ini. Ya, kan? Sebagai apa pun anda hari ini, tidak akan pernah luput dari bantuan orang lain. Bahkan, anda pada kehidupan yang mapan dengan segala fasilitas tercukupi sekali pun, dipastikan memerlukan bantuan orang lain. Yakinlah, sebagai mahluk sosial, tidak ada orang hidup sukses tanpa bantuan orang lain!Bacaan LainnyaIstri Masak Ikan Hias Seharga Mobil’ Sang Suami, Diduga CemburuHarga Ikan Discuss TermahalPentingnya Air dan Garam Mineral Bagi Hewan Ternak Saya menyebut orang-orang ini dengan The God’s Men’. Mereka adalah orang-orang yang sengaja dikirim oleh Allah untuk membantu orang lain. Melalui uluran tangan mereka tangan’ Tuhan bekerja untuk memberikan banyak kemudahan kepada orang-orang yang dikehendakiNya dalam berbagai bidang kehidupan masa berjuang menuntut ilmu sekolah/kuliah, pekerjaan, karir, bisnis, organisasi, dan lain-lain. Saya pribadi bahkan memiliki daftar nama-nama mereka agar tidak lupa. Itulah yang paling saya takutkan. Saya takut lupa dengan orang-orang yang telah banyak berjasa dalam hidup saya. Sedikit apa pun bantuan yang mereka berikan, bagi saya pasti sangat berarti. Sifat manusia memang mudah lupa. Dan, sejahat-jahatnya lupa adalah melupakan jasa baik orang lain kepada kita. Sebagai orang yang berjuang dalam menuntut ilmu untuk mencapai cita-cita, saya sangat merasakan bagaimana sulitnya melewati hari-hari di masa sekolah hingga kuliah. Mengatasi kesulitan ekonomi menjadi tantangan tersendiri. Banyak halangan dan rintangan yang harus dihadapi. Saat-saat seperti itulah The God’s Men’ didatangkan Allah untuk membantu. Itulah mengapa mereka tidak boleh dilupakan. Pribahasa umum yang sering kita dengar, jangan sampai seperti kacang lupa dengan kulitnya’. Itu artinya, dari sebelum menjadi apa-apa hingga ia menjadi kacang yang bagus, selalu dilindungi oleh kulitnya. Di dalam tanah, kulit kacang selalu melindungi isinya dengan sebaik mungkin agar tidak busuk atau dimakan hama. Jasanya sangat besar. Bayangkan jika biji kacang tanpa kulitnya, maka ia akan hancur dan mungkin akan terbuang. Itu kacang! Ada beberapa alasan penting mengapa The God’s Men’ tidak boleh dilupakan. Pertama, tahu diri. Sebagai bahan kontrol diri sendiri. Agar terhindar dari sifat sombong atau merasa hebat. Dengan kembali membuka daftar nama orang-orang ini, kita semakin sadar bahwa diri kita bukanlah siapa-siapa. Mereka yang apa-apa. Merekalah yang hebat. Di sisi lain, hal ini juga dapat dijadikan bahan evaluasi diri. Dari mana dan sudah sampai di mana perjalanan hidup yang sedang dilakoni’. Agar masa-masa sulit yang telah dilewati menjadi berarti dan tidak mengecewakan orang-orang yang telah berjasa, maka jangan pernah melakukan hal-hal yang di luar ketentuan. Jangan membuat keburukan karena yang kecewa tidak hanya diri sendiri tapi juga mereka yang telah banyak berkorban. Kedua, tahu berterima kasih. Jasa mereka yang telah banyak membantu kita tidak akan terbalaskan. Itulah pula mengapa saya namakan The God’s Men’ karena biar Allah saja yang membalas segala kebaikan mereka. Mereka mungkin sudah melupakan apa yang mereka berikan kepada kita. Tapi kita tidak boleh lupa. Bukan untuk membalasnya, tapi sebagai bukti kita tahu berterima kasih. Dengan tidak melupakan kebaikan orang itulah bukti kita berterima kasih sekali gus bersyukur. Paling tidak dengan cara ini, kita masih bisa bersilaturrahim dan menjalin hubungan kekeluargaan dengan baik. Itulah salah satu bentuk terima kasih kita. Ketiga, tahu berbagi dan menolong. Memang begitulah hukum alamnya, ada masanya kita dibagi dan ditolong, ada pula masanya kita berbagi dan menolong. Dalam menghadapi masa-masa sulit dalam kehidupan, sekecil apa pun bantuan orang pasti sangat berarti bagi kita. Rasa ini tidak boleh hilang dalam ingatan. Jika ditolong itu rasanya bahagia, maka jangan ragu untuk menolong orang lain. Akhirnya, dipastikan masing-masing kita memiliki The God’s Men’. Mereka yang telah banyak sedikitnya membantu kehidupan kita. Satu kalimat, jangan lupakan mereka’!. Bukan karena mereka, tapi untuk diri kita sendiri agar kita tahu diri, tahu berterima kasih, dan tahu berbagi. Ingatlah segala kebaikan mereka sekecil apa pun itu dan lupakan kebaikan kita kepada orang lain! Semoga bermanfaat. Amin. Oleh Bahren Nurdin*Akademisi UIN STS Jambi dan Mind-Setting Programmer hypno-motivation
Ceramah Singkat Jangan Pernah Lupakan Kebaikan dan Jasa Orang LainMengingat Kebaikan Orang KafirMengingat Kebaikan Orang di Masa LaluJadilah Orang yang BersyukurVideo Ceramah Singkat Jangan Pernah Lupakan Kebaikan dan Jasa Orang Lain Demikian juga di antara sahabat atau orang yang ingin menebus tebusan adalah Jubair bin Muth’im radhiyallahu anhu. Ketika dia masih musyrik, dia pergi ke Madinah untuk menebus tebusan. Di antara kerabatnya ada yang tertawan dalam Perang Badar, maka dia pun pergi ke Madinah ingin menebus tawanan tersebut. Kemudian ternyata dia mendapati Nabi shallallahu alaihi wa sallam sedang shalat maghrib dan sedang membaca surat Ath Thur. Hingga beliau sampai pada ayat; أَمْ خُلِقُوا۟ مِنْ غَيْرِ شَىْءٍ أَمْ هُمُ ٱلْخَٰلِقُونَ “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri?” QS. At-Tur[52] 35 Jubair bin Muth’im berkata, كَادَ قَلْبِى أَنْ يَطِيرَ “Hampir-hampir jantungku lepas.” Dan itu yang menjadi sebab dia tertarik dengan Islam. Kemudian akhirnya beliau pun masuk Islam. Kata beliau, وَذَلِكَ أَوَّلَ مَا وَقَرَ الإِيمَانُ فِي قَلْبِي “Itulah awalnya iman masuk ke dalam hatiku.” HR. Bukhari No. 4023 [1] Gara-gara mendengar satu ayat yang dibaca oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Mengingat Kebaikan Orang Kafir Setelah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam selesai shalat maghrib, Jubair bin Muth’im pun menemui Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dia masih musyrik. Kemudian dia berkata, “Ya Rasulallah, aku ingin menebus tawananku dari kerabatku.”, maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata لو كان المُطعم بن عديٍّ حيًّا ثم كلمني في هؤلاء لتركتُهم له “Seandainya Bapakmu Al Muth’im bin Adi masih hidup, kemudian datang berbicara kepadaku tentang ini Hai Muhammad, bebaskan mereka!’ Aku akan bebaskan mereka seluruhnya.” HR. Abu Dawud [2] Al Muth’im bin Adi meninggal dalam kondisi musyrik. Tetapi dia punya jasa besar terhadap Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dia termasuk yang berjasa untuk pembatalan shahifah الصحيفة ketika terjadi pemboikotan terhadap Bani Hasyim sebagaimana pernah kita jelaskan. Kemudian dia yang berbicara sehingga akhirnya surat perjanjian tersebut dirobek, dan akhirnya batallah pemboikotan tersebut. Dia juga orang yang memberikan jaminan suaka ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kembali dari Tha’if. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak lupa dengan kebaikan orang lain, meskipun orang tersebut adalah orang kafir. Bahkan beliau berkata, “Seandainya Bapakmu Al Muth’im bin Adi masih hidup, kemudian datang berbicara kepadaku tentang ini Hai Muhammad, bebaskan mereka!’ Aku akan bebaskan mereka seluruhnya.” Sebagaimana sudah kita sebutkan pada pertemuan yang sebelumnya, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ingat dengan kebaikan Abul Bakhtari. Demikianlah seorang muslim seharusnya. Siapapun yang berbuat baik kepadanya, maka dia harus ingat. Jangan dia lupakan meskipun sudah berlalu bertahun-tahun dan meskipun dia ada di golongan musuh. Mengingat Kebaikan Orang di Masa Lalu Kalau dia pernah berbuat baik, ingatlah kebaikan tersebut. Bukan sebaliknya. Seseorang sudah pernah berbuat baik sama kita kemudian sudah lewat lima atau enam tahun, kita lupa karena sudah bertemu dengan teman-teman baru. Tidak benar seperti itu. Jika ada orang yang pernah berbuat baik kepada kita, terutama di masa-masa sulit, harus kita ingat. Kita doakan mereka meskipun kita tidak pernah bertemu dengannya. Jangan kita lupakan mereka yang pernah punya jasa dalam kehidupan kita. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam saja tidak melupakan jasa orang-orang kafir. Apalagi orang-orang muslim yang punya jasa kepada kita di masa lalu di masa sulit kita. Maka jangan sampai kita lupakan. Saya Ustadz Firanda punya kawan, yang sekarang adalah seorang milyarder. Dia pernah bercerita kepada saya bahwa dahulu saat dia masih sulit miskin dan tidak punya apa-apa, dia pernah bekerja menjadi tukang sampai akhirnya matanya kena serbuk kayu atau serbuk besi. Namun dia tidak mempunyai uang untuk menyembuhkan matanya. Kemudian ada seorang temannya yang mempunyai sepatu baru dan temannya tersebut menjual sepatu barunya agar kawan saya itu bisa berobat. Sekarang dia telah menjadi milyarder, kemudian dia angkat kawannya tersebut menjadi orang yang penting di dalam perusahaannya. Jadilah Orang yang Bersyukur Jadi jangan lupa dengan kebaikan orang. Banyak orang yang baik yang berjasa banyak kepada kita. Kita tidak boleh melupakan itu semua. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ “Tidak dikatakan bersyukur pada Allah bagi siapa yang tidak tahu berterima kasih pada manusia.” HR. Abu Daud no. 4811 dan Tirmidzi no. 1954. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih [3] Lihatlah bagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ingat kepada jasa-jasa orang kafir. Orang kafir yang bahkan datang dalam rangka untuk memerangi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, yaitu Abul Bakhtari. Jika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengingat kebaikannya. Maka bagaimana halnya dengan orang-orang yang baik dari kalangan orang muslim? Tidak boleh kita lupakan. Video Ceramah Singkat Jangan Pernah Lupakan Kebaikan dan Jasa Orang Lain Mari turut menyebarkan ceramah singkat tentang “Jangan Pernah Lupakan Kebaikan dan Jasa Orang Lain” di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum.. Catatan [1] Sumber [2] Sumber [3] Sumber